SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Kemeriahan Roots Show Papua Reggae Festival (PRF) ke-11 sukses menggetarkan Cafe Benji Beach pada Jumat (25/9/2026). Mengusung tema “One Vibe, One People, One Love”, panggung pemanasan menuju acara puncak PRF yang akan berlangsung pada 17-18 Oktober ini dihiasi oleh penampilan enerjik dari sederet band lokal ternama, mulai dari KND Band, Black Curly Band, Yupiwo Band, GBS Band, Tigi Peku Band, One Heart Band, hingga Amoye Band. Alunan musik yang menggema tidak hanya menghibur pengunjung yang hadir, tetapi juga menjadi wadah mempererat tali persaudaraan serta melestarikan identitas budaya melalui karya musik.
Terobosan Musik Reggae Berbahasa Daerah dan Misi Perdamaian
Kapten Black Curly Band, Fanderi Sroyer, mengungkapkan kekagumannya terhadap antusiasme penonton serta bagaimana musik mampu merajut kebersamaan lintas kalangan tanpa memandang batas antarkelompok.
“Kalau malam ini, acara luar biasa. Luar biasa antusias, terus kita yang tidak baku kenal tapi musik itu yang menyatukan. Jadi memang luar biasa. Event-event seperti begini harus lebih banyak lagi di Papua Tengah karena musik itu bahasa universal,” ujar Fanderi Sroyer.
Ia sangat mengapresiasi terobosan panitia yang mewajibkan penyampaian lagu berbahasa daerah pada festival kali ini. Langkah tersebut mendorong grupnya untuk memperkuat unsur budaya dan adat dalam karya mereka.

Black Curly Band saat tampil dalam acara Roots Show di Cafe Benji, Jumat (25/9/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com
“Kami bersyukur sekali karena PRF kali ini kita menyanyikan bahasa daerah. Lagu bahasa daerah itu luar biasa, ini terobosan yang luar biasa dan kami sangat support sekali. Makanya mulai dari kemarin begitu PRF dicanangkan, kami punya satu komitmen di band bahwa unsur tradisional, unsur budaya, unsur adat itu harus kami angkat dan kami harus kasih kuat di situ. Makanya di malam hari ini kami punya pemain ukulele, ini pertama kali kami masukkan unsur ukulele dalam musik yang kami bawakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fanderi berharap masyarakat Papua Tengah dapat berbondong-bondong meramaikan festival ini untuk memperkuat persatuan tanpa memandang perbedaan wilayah.
“Untuk di Papua Tengah, saya berharap tuh masyarakat bisa berbondong-bondong datang dan menikmati musik. Karena kita tahu bahwa musik itu seperti tadi saya bilang, itu bahasa universal. Jadi di situ kita bisa jadi saudara melalui musik dan biar melalui PRF ini masyarakat Papua Tengah itu bisa bersatu, baku gandeng tangan. Tidak ada lagi gunung pantai, tidak ada lagi Papua Ambere, itu tidak ada lagi. Kita sama-sama jadi satu, sama-sama jadi saudara, kita sama-sama cinta tanah dan negeri ini. Supaya kita kasih tunjuk sama semua orang bahwa Papua, Papua Tengah itu tanah damai,” pungkasnya.
Wadah Unjuk Gigi dan Semangat Mengembangkan Potensi Musik Daerah
Vokalis Tigi Peku Band, Meki Ukago, turut menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan roadshow tersebut yang dinilai mampu membakar semangat para pecinta musik reggae di Papua Tengah.
“Kami dari Tigi Peku Band asal Kabupaten Deiyai, kami memberi apresiasi kepada panitia yang sudah memberi kesempatan dalam event musik reggae ini untuk menjelang PRF yang akan datang nanti. Kiranya melalui kegiatan event PRF ini memberi semangat, memberi motivasi kepada kami yang para pecinta musik reggae khususnya di Papua Tengah,” ungkap Meki Ukago.
Vokalis Tigi Peku Band tersebut turut menyerukan ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat di Provinsi Papua Tengah untuk memberikan dukungan penuh pada hajatan besar yang digelar Oktober mendatang. Gelaran ini dinilai sangat penting dalam menyalurkan bakat serta mengasah potensi para musisi lokal.

Tigi Peku Band saat tampil dalam acara Roots Show di Cafe Benji, Jumat (25/9/2026). Foto : Kristin Rejang/Sasagupapua
“Kepada masyarakat yang ada di Provinsi Papua Tengah, mari kita sama-sama untuk mendukung kegiatan event PRF yang nanti akan diadakan pada bulan Oktober mendatang. Dan melalui kegiatan event ini kiranya dapat memberi semangat kepada kami dan untuk dapat mengembangkan potensi musik yang ada di Provinsi Papua Tengah,” ajaknya.
Mengenai kesiapan timnya dalam mengisi panggung PRF ke-11, ia menegaskan kesiapan penuh grupnya untuk tampil maksimal.
“Siap! Kami untuk Tigi Peku Band siap untuk menyukseskan kegiatan PRF yang nanti akan dilaksanakan bulan Oktober. Kami akan membawakan tiga lagu ciptaan kami sendiri, dan lagu itu lagu dalam bahasa ibu, bahasa Mee,” jelasnya.
Harapan Dukungan Pemerintah dan Sinergi Masyarakat Menjaga Keamanan
Sementara itu, Vokalis KND Band, Melison Dogopia, menyoroti kemandirian panitia penyelenggara PRF ke-11 sekaligus menitipkan harapan besar kepada pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan talenta-talenta muda seniman di Papua.
“Panitia yang mungkin akan menyelenggarakan event PRF ini ya, yang ke-11, saat ini kita lihat mereka berdiri sendiri mungkin tanpa ada bantuan ya dari Pemda begitu, namun mereka bisa. Jadi harapan kami dari KND Band, semoga pemerintah membantu melihat. Karena ini event yang kayak begitu kan bukan sehari-hari, tapi ini kan sekali dalam satu tahun,” papar Melison Dogopia.
Vokalis KND Band tersebut menekankan pentingnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap ruang panggung yang diciptakan bagi para seniman dan talenta muda Papua. Selain kepada pihak birokrasi, ia mengimbau seluruh masyarakat di delapan kabupaten se-Papua Tengah untuk bersama-sama menjaga kondusivitas selama kegiatan berlangsung.

KND Band saat tampil dalam acara Roots Show di Cafe Benji, Jumat (25/9/2026). Foto : Kristin Rejang/Sasagupapua.com.
Terkait persiapan teknis di atas panggung, ia membocorkan materi lagu daerah yang siap digelontorkan.
“Kami KND siap tiga lagu, karena disuruh dari panitia kan disuruh bawa tiga lagu hits lagu daerah. Jadi ada dua lagu yang ciptaan kami sendiri dari KND Band. Satu lagu ini yang kami bawa dari senior kami. Jadi satu lagu untuk kita punya budaya, satu lagu untuk perempuan kayak lagu romantis begitu, terus satu lagunya itu kami bawa tentang anak yatim piatu,” terangnya.
Langkah Positif Sambut Tuan Rumah Papua Reggae Festival Ke-11
Vokalis Amoye Band, Aten Tebay, menilai kegiatan roadshow ini sebagai langkah awal yang sangat positif untuk membangun antusiasme masyarakat menjelang puncak acara Papua Reggae Festival.
“Malam ini spiritnya tuh berbeda ya. Ini langkah yang baik, positif, dan semangatnya tuh kelihatan. Antusias dari masyarakat kelihatan sekali,” tutur Aten Tebay.
Aten menilai roots show perdana ini berhasil menyebarkan pesan positif dan memantik aksi nyata masyarakat untuk menyukseskan Papua Reggae Festival. Ia pun mengajak seluruh warga Papua Tengah meluangkan waktu pada tanggal 17-18 Oktober untuk memeriahkan festival yang dipusatkan di Kabupaten Nabire tersebut, sekaligus menyongsong potensi rekor MURI lewat gelaran lagu-lagu daerah.
“Jadi mungkin kami juga mengajak semua masyarakat Papua Tengah untuk mengambil bagian dalam kegiatan PRF ya, Papua Reggae Festival. Ini kegiatan yang positif sekali karena kita orang Papua tuh identik dengan musik reggae, begitu. Musik itu bisa menembus perbedaan, dia bisa membuat apa, ada kedamaian, ada sesuatu yang kita rasakan dalam hati kita, ya. Oleh sebab itu memang ini hal yang baik dan kita berharap masyarakat Papua Tengah bisa mengambil bagian. Kami mengajak untuk tanggal 17, 18 Oktober untuk mengambil bagian dalam kegiatan Papua Reggae Festival pada bulan Oktober di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, iya,” serunya.
Sebagai pihak yang menyuarakan kesiapan Papua Tengah menjadi tuan rumah saat gelaran PRF ke-10 di Wamena, ia memastikan Amoye Band siap menyambut kedatangan para musisi dari Papua Pegunungan, Papua Selatan, hingga Papua Barat.

Amoye Band saat tampil dalam acara Roots Show di Cafe Benji, Jumat (25/9/2026). Foto : Kristin Rejang/Sasagupapua.com.
Menanggapi kesiapan mental dan materi lagu bandnya, Aten menyatakan kesiapan penuh menyambut PRF Oktober nanti.
“Amoye sendiri secara mental siap! Mental siap sekali karena Amoye yang menyatakan hal ini di PRF 10 di Wamena. Bahwa kita akan tunggu teman-teman dari Papua Pegunungan, Papua Selatan, hingga Papua Barat untuk hadir di Papua Tengah. Kita jadi tuan rumah untuk PRF ke-11 dan kita akan tunggu mereka. Secara mental kami sangat siap sekali, tetapi secara apa, materi lagu musik kita masih mempersiapkannya. Kita harus menyiapkan lagu dan musik terbaik,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi dan semangat kepada kerja keras panitia pelaksana.
“Panitia luar biasa, panitia semangat terus! Mulai dari sekarang harus semangat terus, satu pikiran, satu hati untuk jalankan, pasti akan sukses,” pungkasnya.





