Menu

Mode Gelap

Agama · 20 Mei 2026 22:25 WIT

Gereja Kingmi Bukit Zaitun Nabire Nobar ‘Pesta Babi’ dan Nyalakan Lilin Duka untuk Aliko Walia


Anak-anak saat menyalakan lilin usai Nobar Pesta Babi. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

Anak-anak saat menyalakan lilin usai Nobar Pesta Babi. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Rintik hujan yang mengguyur halaman Gereja KINGMI Jemaat Bukit Zaitun Kalisusu, Klasis Nabire, Papua Tengah, pada Rabu (20/5/2026) malam, tidak menyurutkan langkah ratusan warga. Sejak pukul 18.00 hingga 21.00 WIT, jemaat bersama masyarakat setempat tetap bertahan, duduk berhimpun menyaksikan pemutaran film berjudul Pesta Babi serta rangkaian aksi solidaritas yang diinisiasi oleh Badan Pengurus Jemaat (BPJ) Bukit Zaitun.

Suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh haru ketika malam semakin larut. Usai layar film ditutup, halaman gereja berganti menjadi lautan cahaya kecil.

Puluhan anak-anak maju ke depan, jemari mungil mereka memegang lilin yang menyala di tengah kegelapan. Di bawah rintik gerimis, lagu-lagu pujian mengalun pilu, disusul pembacaan puisi yang menyayat hati, dan diakhiri dengan doa bersama secara khusyuk.

Momen syahdu ini digelar untuk mengenang kepergian adik Aliko Walia, seorang bocah tak berdosa berusia lima tahun yang mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 19 Mei 2026. Aliko menjadi korban luka dalam konflik bersenjata yang terjadi di Kembru, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada 14 April lalu, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

- Advertising -
- Advertising -

Kepergian Aliko menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga di Nabire, khususnya Jemaat Bukit Zaitun yang mayoritas umatnya berasal dari Kabupaten Puncak.

Selain untuk mengenang Aliko, nyala lilin malam itu juga menjadi simbol duka cita sekaligus doa bagi seluruh masyarakat yang menjadi korban konflik bersenjata di atas Tanah Papua. Warga melangitkan harapan agar kedamaian sejati segera hadir di atas tanah leluhur mereka.

Ketua BPJ Gereja KINGMI Jemaat Bukit Zaitun Kalisusu, Ev. Petrus Pigai, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki pesan mendalam bagi umat dan situasi Papua saat ini.

Melalui pemutaran film Pesta Babi, pihak gereja ingin mengajak jemaat melihat langsung kondisi nyata yang sedang dialami oleh sesama saudara di berbagai belahan Papua, termasuk konflik agraria dan ruang hidup di Papua Selatan.

Suasana nobar di Halaman Gereja Kingmi Bukit Zaitun Kalisusu, Nabire, Rabu (20/5/2026). Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com.

“Kegiatan ini bertujuan agar kita bersama-sama melihat situasi dan kondisi di atas Tanah Papua, termasuk apa yang dialami oleh saudara-saudara kami di Papua Selatan. Kedua, kami juga mengenang kembali kepergian anak kekasih kami, adik Aliko Walia. Kebetulan mayoritas jemaat di sini berasal dari Kabupaten Puncak. Kemarin adik kami ini meninggal dunia akibat dampak konflik bersenjata yang terjadi di Puncak. Sebagai keluarga, kami merasa sangat berduka,” ujar Ev. Petrus Pigai.

Lebih lanjut, Ev. Petrus Pigai menekankan pentingnya membangun pemahaman iman di tengah situasi sulit. Melalui refleksi dalam film tersebut, ia mengingatkan jemaat untuk meletakkan dasar hidup dan pengharapan sepenuhnya kepada Tuhan, bukan pada otoritas duniawi semata.

“Kami ingin membangun pemahaman kepada umat bahwa sebenarnya kita sedang hidup di tanah yang kaya. Namun, kekayaan itu justru kerap membuat kami harus menjadi korban. Harapan kami, mari kita bersatu. Seperti yang digambarkan dalam film, masyarakat tidak bisa terlalu mengharapkan pemerintah, tetapi mereka berusaha menanamkan salib bukti bahwa dasar iman orang Papua ada pada Yesus. Hidup orang Papua akan aman bila berada di dalam Yesus,” tegasnya.

Ia juga menambahkan pesan tegas mengenai hak ulayat dan kepemilikan tanah adat di Papua.

“Tuhan menciptakan alam Papua ini untuk kami, orang Papua. Kami menolak segala bentuk eksploitasi dari pihak mana pun yang datang hanya demi mencari keuntungan. Papua ini bukan tanah kosong, ini tanah milik orang Papua dari Sorong sampai Samarai,” lanjutnya.

Momen keterlibatan anak-anak dalam aksi penyalaan lilin ini memiliki makna teologis dan filosofis yang mendalam bagi jemaat. Kematian Aliko yang masih berusia lima tahun dipandang sebagai panggilan iman bahwa generasi muda Papua tidak akan pernah habis, melainkan akan terus tumbuh membawa harapan baru.

Anak-anak saat memegang lilin mengenang Aliko Walia. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

“Aksi menyalakan lilin ini dilakukan oleh anak-anak karena korbannya juga merupakan seorang anak kecil. Pesan kami, di balik masa depan anak-anak ini, pasti ada rencana Tuhan. Kita belajar dari Alkitab tentang kisah di Mesir, bagaimana bangsa Israel dijajah dan Musa kecil yang hampir mati diselamatkan oleh Tuhan hingga tumbuh menjadi pemimpin besar. Apabila ada upaya untuk membinasakan generasi kecil kami, maka percayalah, akan tumbuh banyak Musa baru di atas tanah ini, dan suatu saat Papua pasti akan mendapatkan kebebasannya,” ucap Ev. Petrus Pigai.

Ev. Petrus Pigai juga menegaskan posisi Gereja KINGMI di Tanah Papua yang akan terus konsisten menyuarakan kemanusiaan dan keadilan melalui Departemen Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC).

Tragedi yang menimpa Aliko Walia diharapkan menjadi alarm keras bagi komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan untuk segera mengambil tindakan nyata.

“Gereja akan terus bersuara. Di internal Gereja KINGMI di Tanah Papua, kami memiliki departemen khusus yang menangani bidang perlindungan dan perdamaian, dan seluruh data korban seperti ini sudah tercatat dengan baik. Kami ingin menegaskan kepada dunia bahwa tragedi yang menimpa adik Aliko Walia tidak boleh terjadi lagi pada anak-anak lain. Anak-anak sangat berharga. Kami berharap Komnas HAM bahkan PBB dapat turun tangan melihat masalah ini, karena ini bukan lagi sekadar konflik bersenjata, melainkan hilangnya nyawa anak di bawah umur,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Uskup Timika Pimpin Misa di Fakfak: Ingatkan Bahaya Medsos dan Pentingnya Jaga Tanah Adat

20 Mei 2026 - 22:58 WIT

Pemprov Papua Tengah Dukung Pelayanan 20 Tahun ISKIM

12 Mei 2026 - 17:51 WIT

Langkah Strategis Pemprov: Gubernur Meki Nawipa Resmikan Pesantren dan Sambut Berdirinya SMP-SMA Riyadhul Qur’an

25 April 2026 - 18:45 WIT

Aksi Kemanusiaan Awali Rakerda I Pemuda Katolik Papua Tengah:Nyalakan Lilin dan Doa bagi Korban Konflik Papua

23 April 2026 - 21:00 WIT

PGI Serukan Hentikan Kekerasan Bersenjata di Tanah Papua

22 April 2026 - 10:32 WIT

Sidang I GPDP Nabire: Momentum Perkuat Persatuan dan Penginjilan

19 April 2026 - 01:08 WIT

Trending di Agama