Menu

Mode Gelap

Lingkungan · 4 Feb 2026 17:52 WIT

Goa Sejarah Perang Kedua: Benteng Alam Knasaimos yang Terancam Deru Senso


Foto: Ewil M. Woloin Perbesar

Foto: Ewil M. Woloin

Oleh: Ewil M. Woloin

SASAGUPAPUA.COM, Sorong Selatan – Di wilayah adat Knasaimos, Sorong Selatan, terdapat sebuah situs yang menjadi saksi bisu perjuangan manusia melawan maut. Masyarakat mengenalnya sebagai Goa Sejarah Perang Kedua.

Bagi Marga Yadafat, goa ini adalah penyelamat; sebuah ruang solusi yang disediakan alam ketika teknologi perang manusia membawa kehancuran pada tahun 1944.

Kisah lisan dari para orang tua menceritakan bagaimana mereka menjadikan goa ini sebagai rumah perlindungan saat tentara Jepang menduduki Wersar dan Teminabuan.

- Advertising -
- Advertising -

Di malam hari, mereka akan naik ke atas tebing goa, menyaksikan langit memerah akibat pesawat-pesawat Sekutu yang menjatuhkan bom di Teminabuan.

Hutan saat itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh bom maupun pengintaian udara.

Ancaman Baru: Deru Senso di Hutan Adat

Namun, hari ini Goa Sejarah Perang Kedua menghadapi musuh jenis baru yang tidak kalah mematikan dari bom di masa lalu. Hutan Knasaimos kini tidak lagi tenang. Bunyi mesin senso (gergaji mesin) terdengar bersahut-sahutan dari kiri dan kanan, menandakan aktivitas penebangan yang kian masif.

Deru senso ini menjadi ancaman serius bagi:

  • Ekosistem dan Keanekaragaman Hidup: Hutan primer yang telah ribuan tahun menjaga keseimbangan alam kini terfragmentasi.
  • Situs Sejarah: Aktivitas penebangan di sekitar goa mengancam integritas struktur alam situs sejarah ini. Kehilangan tutupan hutan berarti kehilangan konteks sejarah dan perlindungan alami goa tersebut.
  • Benteng Iklim: Di tengah krisis iklim global, menghancurkan hutan Knasaimos sama saja dengan meruntuhkan benteng pertahanan terakhir kita terhadap kenaikan suhu dan bencana alam.

Penutup

Kisah Goa Sejarah Perang Kedua mengingatkan kita bahwa hutan adalah satu-satunya “teknologi” yang teruji mampu menyelamatkan manusia di masa paling sulit sekalipun.

Pengakuan hak wilayah adat Knasaimos bukan hanya soal keadilan bagi masyarakat lokal, tetapi tentang menjaga satu-satunya solusi alami yang kita miliki untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Jangan biarkan benteng sejarah ini runtuh. Menjaga hutan Marga Yadafat adalah bentuk penghormatan terhadap masa lalu sekaligus investasi bagi kelangsungan hidup generasi mendatang.

Sudah saatnya kita bergerak sebelum deru senso membungkam sejarah kami selamanya.

(Penulis adalah putra daerah yang aktif memantau perlindungan wilayah adat di Knasaimos, Papua Barat Daya)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

LMA Malamoi Gelar Sidang Adat, Tolak Keras Proyek Cetak Sawah dan Eksploitasi Hutan

1 Juli 2026 - 22:57 WIT

Mahasiswa Papua di Makassar Tolak Pembangunan Bandar Antariksa Biak

27 Juni 2026 - 22:40 WIT

Dugaan Penggusuran Hutan Adat, Tim Advokasi Desak Mabes Polri Periksa PT MNM

20 Juni 2026 - 20:47 WIT

Edukasi Hak Masyarakat Adat: Dorthea Wabiser Bedah Empat Pilar Prinsip FPIC

16 Juni 2026 - 00:34 WIT

LBH Papua Sebut Pembangunan Bandar Antariksa di Biak Langgar Prinsip FPIC Masyarakat Adat

15 Juni 2026 - 20:23 WIT

Menjaga Nadi Hidup Totaa Mapihaa: Saat Layar ‘Pesta Babi’ Membakar Kesadaran Kolektif yang Sempat Tertidur

15 Juni 2026 - 20:04 WIT

Trending di Lingkungan