SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Anggota DPR Papua Tengah, Henes Sondegau mengecam serangan drone di Kawasan Mbamogo, Paroki Bilogai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Minggu, 17 Mei 2026.
Dimana drone misterius tersebut dilaporkan terbang di atas area rumah ibadah dan melepaskan bom granat tepat di halaman Gereja Katolik setempat. Ledakan keras tersebut mengakibatkan empat orang warga sipil mengalami luka-luka akibat terkena serpihan tajam material granat.
Menanggapi tragedi berdarah ini, Henes Sondegau mengatakan bahwa konflik bersenjata yang mengorbankan warga sipil di wilayah tersebut bukanlah barang baru, melainkan sebuah nestapa berkepanjangan yang terus berulang sejak tahun 2019 silam.
“Kejadian yang terjadi di halaman Gereja Katolik di Intan Jaya ini merupakan hal yang aneh, yang mana bertepatan pada hari Minggu di saat semua umat Kristen sedang merayakan ibadah. Pihak-pihak yang melakukan itu mereka memiliki drone, kan bisa lihat kalau rakyat lagi beribadah. Yang mana pihak aparat menaruh granat di halaman gereja, sangat disayangkan masyarakat Intan Jaya yang menjadi korban. Istilahnya mau maju kena, mundur pun kena akibat ulah dari pihak-pihak yang sedang baku serang ini, dan saya sangat menyayangkan masyarakat di Distrik Agisiga juga ikut menjadi korban,” ujar Henes.
Politisi Partai Nasdem ini menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada pihak otoritas gereja yang tidak pernah lelah berdiri di garis depan demi kemanusiaan.
Menurutnya, di tengah situasi sekuriti yang tidak menentu, gereja tetap menjadi satu-satunya tempat bernaung yang paling aman bagi masyarakat kecil.
“Kita perlu melihat masyarakat kita, mereka mau kemana lagi? Tempat ternyaman dan yang bisa melindungi diri mereka hanya ada di gereja. Saya berterima kasih kepada pihak Gereja Katolik yang selalu menjadi benteng untuk melindungi umat, dan selalu menjadi pengayom di depan untuk pemerintah maupun masyarakat Kabupaten Intan Jaya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Henes mempertanyakan nurani para pihak yang bertikai, terutama karena insiden ini terjadi bertepatan dengan momentum hari jadi institusi militer daerah.
Ia mengingatkan kembali esensi dasar dari tugas pertahanan negara yang seharusnya memberikan rasa aman, bukan sebaliknya memicu ketakutan di tengah masyarakat yang sedang beribadah.
“Kita tahu bahwa fungsi TNI adalah melindungi negara dari ancaman negara lain, yang mana peristiwa ini justru bertepatan dengan hari ulang tahun Kodam. Menurut saya kejadian ini sangat disayangkan, ledakan yang diduga dilakukan oleh anggota TNI apakah mereka tidak memiliki Tuhan? Kejadian ini sangat tidak manusiawi. Untuk itu saya berharap agar ke depan pihak-pihak terkait jangan lagi korbankan masyarakat sipil atas agenda yang direncanakan, kasihan masyarakat Intan Jaya akan habis bila kejadian ini terus-menerus terjadi,” kata Henes.
Ia juga meminta dengan tegas kepada kelompok TNI maupun Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPN-PB OPM) untuk segera menghentikan kebiasaan menjadikan pemukiman warga dan fasilitas ibadah sebagai medan pertempuran ego ideologis mereka.
“Saya berharap TNI maupun TPN-OPM, ya mereka ini sama-sama punya misi yang sama, yaitu berkaitan dengan ideologi. Jadi kalau bisa jangan korbankan masyarakat. Ini bukan hal baru tapi sudah dari 2019. Kasihan, maju mundur semua masyarakat yang kena, buka pos di mana-mana. kasihannya masyarakat, masyarakat itu harus diutamakan perlindungan kepada mereka. Kabupaten ada karena masyarakat, tanpa mereka juga kita tidak bisa ada di situ. Jadi saya berharap kepada kedua pihak yang punya kepentingan untuk melihat karena hal kemanusiaan ini sangat penting,” ujarnya.
Di sisi lain, Henes juga berharap agar jajaran eksekutif pemerintah daerah Kabupaten Intan Jaya tidak lambat dalam merespons situasi darurat kemanusiaan yang menimpa warganya sendiri.
“Berkaitan dengan kejadian ini, kita berharap pemerintah daerah juga jangan tutup mata. Pemerintah daerah harus bikin gerakan, mulai datangi pihak-pihak yang menjadi korban. Itu tugasnya pemerintah daerah. Saya amati pemerintah daerah ini tidak ada yang merespons. Dulu ada namanya tim penanganan konflik, tapi sejauh ini sudah seperti apa tim penanganan konflik yang dibentuk oleh pemerintah daerah itu? Yang ada hanya Gereja Katolik yang selalu jadi tameng depan untuk melindungi rakyat,” kritik Henes.
Menutup pernyataannya, legislator Papua Tengah ini mendesak semua pihak yang memegang senjata untuk segera menyudahi taktik perang yang menyasar fasilitas publik, demi mencegah gelombang pengungsian besar-besaran yang hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Papua.
“Sangat disayangkan sekali dengan kejadian ini, secara pribadi saya katakan itu tidak manusiawi. Seharusnya kalau sudah ada drone, itu mereka lihat benar-benar, dan ini hari Minggu. Kita orang Papua itu yang paling kita takuti dan hargai itu hanya hari Minggu. Sudah cukup lama konflik ini, ada kasus tembak-menembak, masyarakat mengungsi di mana-mana. Sudahlah jangan membuat supaya masyarakat itu mengungsi keluar lagi dari gereja itu, sekitaran gereja itu. Kita ini susah untuk berbicara terus melihat, apa tidak ada cara lain kah untuk melakukan hal-hal seperti begini? Ini yang perlu saya ingatkan kepada pihak-pihak yang punya kepentingan, sayangilah masyarakat, lindungi masyarakat. Tidak boleh dengan cara-cara seperti itu, apalagi sampai bom granat yang ditaruh di depan gereja, ini kan sangat disayangkan,” pungkasnya.





