Semangat pemuda Papua untuk berdikari lewat jalur ekonomi kreatif terus bertumbuh. Adalah Agustinus Kadepa, pria berusia 36 tahun asal Kabupaten Paniai, Papua Tengah, yang sukses merintis usahanya sendiri dengan mendirikan Kedai Ko’Puaz pada September 2025 lalu.
Usaha yang berawal dari lapak sederhana di area depan kini telah bertransformasi setelah mendapat renovasi interior yang nyaman.
Menariknya, tak sekadar menyajikan olahan kafein, Agustinus juga melengkapi sudut kedainya dengan pojok baca yang dipenuhi beragam koleksi buku. Pengunjung dapat membaca dengan santai sembari menikmati kopi khas yang ditanam, diolah, hingga disajikan sendiri oleh sang pemilik.
Jejak Panjang dari Koperasi hingga Kebun Pribadi
Keterlibatan Agustinus di dunia biji hitam bermula dari program perkebunan kopi yang dicanangkan mantan Bupati Paniai, Meki Nawipa yang kini menjabat sebagai Gubernur Papua Tengah.
Perjalanannya berlanjut saat ia dipanggil secara pribadi ke kediaman bupati dan diberi kepercayaan penuh untuk mengawal pengembangan kopi di 19 distrik melalui satu Koperasi di Paniai. Lewat wadah tersebut, ia menimba ilmu dari proses pascapanen hingga teknik mentengsangrai (roasting).
Pada tahun 2023, Agustinus memutuskan menarik diri dari pengelolaan koperasi demi fokus merawat kebun pribadinya di Kampung Tuguwai, Distrik Aweida. Langkah ini menjadi fondasi penting sebelum ia melangkah lebih jauh.
“Tahun 2023 dan 2024 itu saya fokus di kebun untuk merawat kopi yang ada di kampung. Terakhir di 2025, baru mulai bikin branding sendiri dengan nama Ko’Puaz ini,” kata Agustinus.
Nama Ko’Puaz sendiri diambil dari akronim “Kopi Asli Paniai”, sekaligus memanfaatkan istilah lokal yang akrab di telinga masyarakat setempat.
Mulai dari menanam, roasting, hingga membuat aneka kopi, semua dilakukan oleh Agustinus Kadepa.
Menu Variatif dan Produk Kemasan Mandiri
Perkembangan bisnis Ko’Puaz bertahap namun pasti. Agustinus terlebih dahulu menguji pasar lewat produk olahan biji kopi sebelum akhirnya berani membuka area kafenya secara penuh.
“Awalnya di pertengahan tahun 2025 kami hanya menjual yang kemasan saja. Tapi pas akhir tahun 2025, sudah buka kedai lagi untuk tempat belajar meracik dan membuat kopi,” ujarnya.
Kini, Kedai Ko’Puaz menawarkan lini menu yang lengkap:
- Kategori Espresso Gold: Espresso, Kopi Susu, Americano, dan V60 (Fisiksty).
- Kategori Es Kopi & Non-Kopi: Es Kopi Gula Aren, Es Kopi Avocado, Es Kopi Cappuccino, Es Kopi Vanilla, Es Kopi Caramel Macchiato, Es Kopi Matcha Latte, serta Lemon Tea (panas/dingin).
- Produk Kemasan: Roastbean dan kopi bubuk Ko’Puaz ukuran 125 gram (Rp50.000) dan 250 gram (Rp100.000).
Untuk kebutuhan racikan minuman di kedai saja, Agustinus menghabiskan 5 hingga 6 kilogram kopi setiap bulannya. Sementara untuk produk kemasan, pemasarannya telah merambah event lokal seperti berbagai Festival hingga pasar di kawasan Nabire.
Tantangan Suplai dan Harapan Penanaman Sejuta Pohon
Di balik geliat usahanya, Agustinus menyadari tantangan terbesar industri kopi Paniai terletak pada kesadaran masyarakat untuk mengolah lahan pertanian secara konsisten. Permintaan pasar yang tinggi kerap sulit dipenuhi akibat keterbatasan hasil panen.
“Pembelinya sangat banyak dan peluangnya besar. Tapi ketika orang mau beli berton-ton dan kita masuk ke kontrak kerja bulanan, kita belum siap karena persediaan kebun yang belum memadai,” ungkap Agustinus.
Ia mendorong program strategis seperti gerakan penanaman 1 juta pohon kopi agar didukung penuh di 5 kabupaten di wilayah Papua Tengah. Agustinus bahkan membandingkan potensi Papua dengan keberhasilan Provinsi Aceh yang mampu mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp1,2 triliun dari komoditas kopi pada 2018.
“Masyarakat di sini mayoritas Orang Asli Papua. Minimal 100 pohon ditanam oleh setiap keluarga di lahan yang ada, saya sangat optimistis kebutuhan pasar bisa terpenuhi dan ini bisa jadi sumber pendapatan mandiri bagi daerah,” pungkasnya.
Penulis: Kristin Rejang









