SASAGUPAPUA.COM, Ilaga — Bencana cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, telah memicu krisis kemanusiaan, kelumpuhan ekonomi, serta hambatan pembangunan infrastruktur yang sangat serius. Kombinasi fenomena kekeringan panjang, kebakaran hutan dan lahan, hingga hujan es atau embun beku kini melumpuhkan total aktivitas kehidupan masyarakat sipil.
“Fenomena hujan es atau yang sering disebut warga sebagai salju dan embun beku membuat tanaman pangan lokal, seperti ubi jalar atau petatas dan keladi menjadi busuk, mengering, mati, hingga gagal panen massal,” ujar Tokoh Intelektual Kabupaten Puncak, Herdi Alom kepada media ini, Rabu (16/9/2026).
Herdi Alom menjelaskan bahwa musnahnya ratusan kebun milik warga membuat stok pangan lokal habis total. Wilayah pelosok seperti Distrik Agandugume, Lambewi, dan Oneri kini menjadi area yang paling rentan menghadapi ancaman kelaparan berkepanjangan.
Selain masalah pangan, krisis air bersih juga melanda wilayah tersebut akibat kemarau panjang yang menyebabkan sumber air pegunungan menyusut drastis dan mengering. Beberapa sumber air yang tersisa bahkan dilaporkan telah tercemar oleh kebakaran hutan dan debu asap.
“Warga terpaksa mengantre air bersih hingga tengah malam demi mendapatkan pasokan air. Kondisi keterbatasan air ini meningkatkan risiko dehidrasi massal serta memicu penularan penyakit saluran pencernaan seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat paparan asap karhutla,” kata Herdi Alom.
Dari sektor ekonomi, hancurnya kebun dan matinya hewan ternak membuat masyarakat kehilangan komoditas utama yang biasanya dijual atau dibarter. Aktivitas di pasar tradisional terhenti total karena tidak ada produk pertanian yang dapat diperjualbelikan. Perputaran uang menyusut drastis lantaran sebagian besar warga kini bergantung sepenuhnya pada bantuan logistik gratis dari pemerintah dan lembaga sosial.
Sektor infrastruktur dan energi pun ikut terdampak. Pasokan listrik terganggu karena Pembangkit Listrik Tenaga Air lokal tidak dapat berfungsi optimal akibat minimnya debit air, yang pada gilirannya mematikan sektor usaha kecil di kawasan perkotaan seperti Ilaga.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak diharapkan segera mengambil langkah-langkah konstruktif dan memberikan solusi alternatif bagi kebutuhan masyarakat sipil, agar masyarakat tidak semakin terpuruk dalam krisis kemanusiaan, penurunan pertumbuhan ekonomi, maupun kelumpuhan infrastruktur,” tegas Herdi Alom.









