Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 27 Jun 2026 22:20 WIT

Melawan Stigma: dr.Daniel Wakei Jelaskan Bukan Salah Istri Soal Keturunan dan Jenis Kelamin Anak


dr. Daniel Wakei. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

dr. Daniel Wakei. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Isu mengenai kemandulan dan tekanan untuk memiliki anak laki-laki sering kali menjadi beban berat bagi perempuan, khususnya bagi Perempuan Asli Papua.

Stigma negatif yang menyalahkan perempuan ketika sebuah keluarga belum dikaruniai keturunan, atau dianggap gagal karena tidak melahirkan anak laki-laki, masih menjadi momok di tengah masyarakat.

Menanggapi fenomena tersebut, dr. Daniel Wakei, praktisi kesehatan yang bertugas di Puskesmas Samabusa dan KPAP Papua Tengah, memberikan edukasi mendalam saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pelatihan Pendidikan Reproduksi yang digelar di Asrama Paniai beberapa waktu lalu menanggapi pertanyaan peserta.

Dalam diskusinya, dr. Daniel menegaskan bahwa pandangan yang menempatkan perempuan sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas masalah kesuburan adalah keliru dan tidak berdasar secara medis.

- Advertising -
- Advertising -

“Ada berbagai kasus pasangan suami istri yang belum memiliki anak meski hubungan dilakukan rutin. Langkah pertama yang harus diambil adalah kedua belah pihak harus memeriksakan diri. Kemandulan itu tidak hanya terjadi pada wanita saja, tetapi juga bisa terjadi pada pria. Jadi, pemeriksaannya harus dilakukan bersama-sama,” ujar dr. Daniel.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa prosedur medis yang tepat adalah melakukan pemeriksaan kandungan bagi istri dan analisis sperma bagi suami. Dengan pemeriksaan tersebut, barulah dapat ditentukan di mana letak permasalahannya.

“Setelah diperiksa, baru nanti ditentukan solusinya seperti apa. Misalnya, kalau laki-laki memiliki masalah, kita akan rujuk ke dokter spesialis andrologi. Begitu juga jika ditemukan masalah lain seperti jumlah sperma yang sedikit atau kondisi rahim yang memerlukan penanganan khusus, teknologi kedokteran seperti bayi tabung bisa menjadi salah satu jalan keluar. Jadi, tidak bisa serta-merta menyalahkan pihak perempuan,” tegasnya.

Selain masalah kesuburan, dr. Daniel juga menyoroti stigma terkait keinginan keluarga untuk mendapatkan anak laki-laki. Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai siapa penentu jenis kelamin bayi masih sangat minim. Ia menjelaskan secara biologis bahwa kromosom yang menentukan jenis kelamin justru berasal dari pihak laki-laki.

“Perempuan hanya memiliki sel telur dengan kromosom X. Sementara itu, laki-laki memiliki sperma dengan kromosom X dan Y. Jika sperma X yang membuahi sel telur, maka akan lahir anak perempuan. Sebaliknya, jika sperma Y yang berhasil membuahi sel telur, maka akan lahir anak laki-laki. Jadi, yang menentukan jenis kelamin sebenarnya bukan perempuannya, melainkan laki-lakinya,” papar dr. Daniel.

Ia menyayangkan adanya anggapan bahwa istri dianggap “salah” hanya karena tidak bisa memberikan anak laki-laki. Padahal, jutaan sperma yang dikeluarkan dalam satu kali ejakulasi memiliki peluang acak untuk membuahi sel telur.

Sebagai penutup, dr. Daniel memberikan solusi medis bagi pasangan yang benar-benar menginginkan jenis kelamin tertentu dengan cara yang tepat melalui bantuan dokter spesialis fertilitas.

“Jika memang ingin kepastian jenis kelamin, ada bantuan dari dokter spesialis fertilitas. Mereka bisa membantu memilihkan sperma dengan kromosom yang diinginkan untuk kemudian dilakukan proses penanaman. Jadi, daripada terus melanggengkan stigma yang menyalahkan perempuan, lebih baik mencari solusi medis yang tepat dan komunikasikan dengan dokter. Hal terpenting adalah kita harus sadar bahwa ini adalah urusan bersama antara suami dan istri,” tutupnya.

 

Penulis: Kristin Rejang

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Edukasi di Asrama Paniai: Membasuh Stigma, Melawan HIV – Menjaga Marwah Generasi Papua

23 Juni 2026 - 14:25 WIT

Menembus Fenomena Gunung Es HIV/AIDS Papua Tengah: Angka Kasus Naik, Sinyal Kesadaran Warga Membaik

17 Juni 2026 - 15:21 WIT

Pemprov Papua Tengah Dorong Transformasi Digital Guna Atasi Kelangkaan Dokter Spesialis

21 Mei 2026 - 13:39 WIT

Tujuh Siswa SD Inpres Oyehe Diduga Keracunan MBG, Korwil BGN Nabire Sebut Indikasi Alergi Udara

17 April 2026 - 14:02 WIT

Nancy Raweyai Harap Speedboat Pusling Potowaiburu Bantu Warga Berobat, Apresiasi Sinergi Pemprov

11 Maret 2026 - 11:31 WIT

Terobosan Berani Papua Tengah: Transformasi Kesehatan dari Akar Rumput hingga Bayi Tabung

20 Februari 2026 - 16:31 WIT

Trending di Kesehatan