Menu

Mode Gelap

Lingkungan · 7 Jun 2026 14:43 WIT

Nabire Dikepung Sampah: Jerit Mama Pasar Karang dan Apatisme Pemuda di Hari Lingkungan Hidup


Tampak mama-mama Papua sedang berjualan di pinggir jalan depan Pasar Karang,  namun dibagian belakang tumpukan sampah yang menggunung di dalam area Pasar. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com) Perbesar

Tampak mama-mama Papua sedang berjualan di pinggir jalan depan Pasar Karang, namun dibagian belakang tumpukan sampah yang menggunung di dalam area Pasar. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Sampah di Kabupaten Nabire menjadi fokus gerakan dalam momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Salah satunya gerakan datang dari lokasi Pasar Karang, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Di lokasi ini setiap hari menjadi cerita dan pengalaman bagi puluhan Mama-Mama asli Papua harus bertaruh kesehatan demi menyambung hidup.

Mereka menjajakan hasil bumi di atas tanah yang becek, tepat berdampingan dengan tumpukan sampah yang menggunung dan tidak teratur.

- Advertising -
- Advertising -

Kondisi di area pembuangan sampah pasar Karang Nabire. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua).

Kondisi memprihatinkan ini memicu kepedulian mendalam. Memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sejumlah komunitas dan organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Nabire memutuskan untuk tidak tinggal diam. Pada Sabtu (6/6/2026), mereka turun langsung membersihkan sampah sekaligus menyuarakan kritik dan edukasi lewat aksi kolaboratif bertajuk “Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung”.

Aksi yang dimulai sejak pagi hari dari Taman Gizi ini diinisiasi oleh gabungan pemuda peduli lingkungan, antara lain Papua Tanpa Sampah (PTS) Nabire, Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) Nabire, Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah, dan Kewita.

Namun, di balik semangat membara para relawan, terselip sebuah ironi yang memprihatinkan.

Meski informasi dan ajakan aksi “Grebek Sampah” ini sudah disebarkan secara masif sejak dua hari sebelum aksi (H-2), kesadaran masyarakat umum dan pemuda lainnya di Nabire terbukti masih sangat minim.

Alih-alih dipenuhi massa yang peduli, jumlah partisipan yang turun ke lapangan dan mengotori tangan mereka justru sangat sedikit jumlahnya hanya di bawah 10 orang saja.

Terlihat ada bak sampah di dalam area Pasar Karang, namun sampah justru banyak menumpuk di luar bak sampah. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)

Oase di Tengah Jalan Becek dan Terabaikan

Bagi Mama-Mama Papua yang berjualan di Pasar Karang, kehadiran segelintir pemuda yang membawa sapu dan kantong plastik hari itu bak oase di padang gurun.

Sambil menyeka keringat, salah satu Mama Papua mengungkapkan rasa terima kasih sekaligus kekecewaannya yang mendalam terhadap pemerintah daerah yang terkesan menutup mata.

“Terima kasih banyak ya, Anak-anak. Pada pagi hari ini, kalian telah memperhatikan pasar kami, pasar mama-mama. Kami mengucapkan terima kasih banyak. Semoga Tuhan memberkati kalian,” ucapnya.

Ia membeberkan bahwa selama ini, kenyamanan pasar yang berada di tengah kota ini justru diusahakan secara swadaya oleh para pedagang kecil, bukan oleh instansi terkait.

“Kami, mama-mama di sini, sangat berharap agar suatu saat nanti pemerintah mau memperhatikan kami. Saat ini, pemerintah sama sekali tidak memperhatikan kondisi kami. Buktinya, pengadaan pasir maupun pengerasan jalan dengan semen di pasar ini kami lakukan sendiri secara swadaya. Kami sudah mengeluarkan modal sendiri untuk menimbun jalanan yang becek dan berlubang seperti kolam. Bahkan, untuk membangun tempat jualan pun, kami sendiri yang membuatnya. Ya, begitulah kondisinya. Pemerintah tidak pernah memperhatikan kami di pasar ini,” ungkapnya.

Mama-mama Papua saat berjualan di dalam area Pasar Karang. (Foto: Ist)

Ia meminta agar Pemerintah terkait di Kabupaten Nabire mencontoh daerah lain yang sukses mengelola kebersihan, bahkan hingga meraih penghargaan tertinggi dari Presiden.

“Kepada pemerintah terkait, jika memang instansi tersebut ada, kami mohon untuk meninjau langsung kondisi pasar-pasar yang kotor. Tolong turunkan petugas dari instansi terkait. Pemerintah pasti bisa bekerja dengan baik. Jika pemerintah hadir dan peduli, pasar dan kota ini pasti akan menjadi bersih. Kita harus mencontoh provinsi lain. Pemerintah daerah harus berusaha agar Kota Nabire bisa meraih piagam penghargaan dari Presiden dalam hal kebersihan kota,” ungkapnya.

Selain itu mereka juga meminta agar ada akses angkutan umum yang disediakan di pasar.

“Selain itu, kami juga meminta agar di setiap akses keluar-masuk pasar disediakan angkutan umum, baik yang rute pendek maupun rute panjang. Hal ini bertujuan agar aktivitas masyarakat dapat terpusat di tempat yang telah disediakan oleh pemerintah. Hanya itu saja yang dapat saya sampaikan. Jika pemerintah dapat memahami dan mewujudkannya, itu sangat baik,” tutupnya.

Ketika Kebersihan Menjadi Jurang Pemisah Ekonomi

Perwakilan Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, Theresia F. Tekege, menjelaskan bahwa aksi ini sebenarnya sudah dipersiapkan dengan matang, termasuk dari segi sosialisasi ke publik.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar berupa apatisnya masyarakat.

“Tadi (kemarin-red) kita sudah mengimbau dan mengumumkan akan ada aksi Grebek Sampah di tiga pasar pada H-2 sebelum hari ini. Artinya, dari hari Kamis malam dan hari Jumat, kita sudah mengumumkan bahwa empat komunitas akan berkolaborasi untuk membersihkan sampah di,” jelas Theresia usai melaksanakan aksi bersih-bersih di Pasar Karang pada Minggu (6/6/2026).

Theresia merasa miris melihat ketimpangan ekonomi yang terjadi akibat lingkungan pasar yang kotor.

Konsumen lebih memilih pergi ke tempat yang modern dan bersih, sehingga dagangan segar milik Mama-Mama Papua sering kali tidak laku.

Kondisi di area pembuangan sampah pasar Karang Nabire. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua).

“Kalau kita melihat bagaimana mama-mama ini berjualan di tengah sampah yang begitu menumpuk entahlah, mungkin karena kurang sosialisasi dari pemerintah atau kurang perhatian tetapi realitasnya selama ini mama-mama berjualan di tengah tumpukan sampah. Mereka harus bersaing dengan produk-produk kemasan. Mereka juga tersaingi oleh pedagang yang berjualan menggunakan gerobak dari rumah ke rumah, serta yang menggunakan kendaraan bermotor maupun kendaraan roda empat. Sementara itu, jualan mama-mama di pasar ini kadang tidak laku karena masalah kebersihan. Banyak masyarakat yang lebih memilih berbelanja di mal karena menganggap tempat yang bersih itu ada di mal. Padahal, produk yang benar-benar segar dan langsung datang dari kebun itu sebenarnya ada di pasar. Kami tertarik bergerak karena kami berpikir jualan mama-mama ini harus lebih sehat tanpa adanya sampah di sekitar tempat jualan mereka,” ungkapnya.

Dalam aksi tersebut, para relawan yang jumlahnya terbatas tetap bersemangat mengedukasi pedagang dengan membagikan kantong plastik sampah dan meminta ketegasan regulasi dari pemerintah daerah.

“Puji Tuhan. Tadi kami juga sempat membagikan kantong plastik agar mereka bisa menaruh sampah di situ. Semoga ini bisa menjadi edukasi bagi mama-mama agar mereka dapat menyediakan plastik atau karton sampah di sekitar tempat jualan mereka. Kami juga mengimbau kepada semua orang yang datang berbelanja bukan hanya kepada mama-mama OAP (Orang Asli Papua) tetapi juga kepada mama-mama non-OAP, bapak-bapak, dan siapa pun yang beraktivitas di pasar agar tidak membuang sampah sembarangan.”

Ia juga menilai kondisi penanganan. Sampah di Kota Nabire terkesan lambat dan padahal setiap orang yang datang ke Nabire selalu mengeluhkan tentang kondisi kota yang dikepung sampah.

Aksi para pemuda di Nabire membagikan plastik ke mama-mama yang berjualan. (Foto: Ist)

“Harapan saya ke depannya, semoga Pemerintah Kabupaten Nabire dan juga Pemerintah Provinsi Papua Tengah sebagai kota sentral dapat menyediakan bak-bak sampah. Selain bak sampah besar, mungkin perlu juga disediakan kotak sampah kecil di tengah pasar, di jalan-jalan masuk gang, dan di area kompleks perumahan. Menurut saya, pengelolaan sampah di Kota Nabire ini masih kurang diatur dan kurang rapi. Semoga Peraturan Daerah (Perda) tentang sampah bisa ditegakkan. Kalau tidak salah, tahun lalu Pemerintah Kabupaten Nabire sudah mengeluarkan Perda soal sampah. Saya pikir Perda tersebut harus dilaksanakan dengan baik dan disosialisasikan hingga ke tingkat masyarakat bawah agar bisa direalisasikan secara nyata. Kita semua tahu bahwa lingkungan yang bersih dapat menghasilkan masyarakat yang sehat. Namun pada kenyataannya, kita bisa lihat hari ini di Nabire yang dihuni banyak orang, tidak sampai 10 orang yang benar-benar peduli terhadap lingkungan,” tutur Theresia.

Menakar Tanggung Jawab atas Limbah Modern

Kekecewaan senada mengenai minimnya kepedulian kawan-kawan muda lainnya juga disampaikan oleh Ketua APAP Nabire, Melodi Gobai. Ia menggarisbawahi bagaimana masyarakat masih memandang sebelah mata isu lingkungan.

“Kami melihat kesadaran dari masyarakat setempat saat ini masih sangat minim. Tidak banyak kawan-kawan yang tergerak untuk datang ke kegiatan ini. Mereka menganggap hal ini sebagai hal biasa yang tidak akan memberikan dampak di kemudian hari. Makanya hari ini hanya beberapa orang saja dari kami yang berkumpul untuk membersihkan sampah, mungkin jumlahnya di bawah 10 orang,” ungkap Melodi.

Padahal, saat proses pembersihan berlangsung, tim kecil ini dihadapkan pada volume sampah yang luar biasa besar karena dugaan pembiaran yang sudah berlangsung lama.

“Saat membersihkan, kami melihat volume sampah ini terlalu banyak. Tampaknya pihak pemerintah tidak pernah melakukan pembersihan di lingkungan tempat mama-mama berjualan. Di area tersebut sampah sangat menumpuk, bahkan kami sudah mengeruknya berulang kali pun sampahnya tetap masih ada. Tadi sempat ada mama-mama yang menegur kami dengan nada tinggi dan bertanya apakah kami digaji sampai membersihkan tempat itu. Tapi kami jawab bahwa kami ini anak-anaknya mama, jadi kami bersihkan sampah di sekitar tempat jualan mama. Lewat aksi ini, kami ingin agar ke depannya jika kita membuat kegiatan kolaborasi lagi, seluruh kawan-kawan dan pihak pemerintah juga harus melihat dengan jeli masalah sampah serta dampak buruk dari limbah plastik yang ada,” ungkapnya.

Melodi juga menyoroti ironi di lapangan, di mana jenis sampah yang mendominasi pasar justru bukan barang dagangan yang berasal dari sampah plastik dan kemasan.

“Sampah-sampah yang ada di pasar tempat mama-mama OAP berjualan ini, kalau mau jujur, sebenarnya bukan hanya berasal dari jualan mama-mama OAP sendiri. Mama-mama OAP tidak menjual barang kemasan plastik, botol, kaca, dan sebagainya. Mereka hanya menjual pisang atau hasil bumi yang dialasi daun-daun. Daun yang membusuk itu justru akan menjadi pupuk organik bagi tanah dan membuatnya subur. Oleh karena itu, kami juga mengimbau bagi pedagang lain yang membuka toko sembako atau lapak jualan di lingkungan pasar harus memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan di sekitar tempat mama-mama berjualan. Kumpulkan sampah tersebut di tempatnya, lalu buang ke luar area pasar,” ungkapnya.

Pemuda saat melakukan aksi bersih-bersih di Pasar Karang. (Foto: Ist)

Ia juga berharap melalui kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di tahun 2026 ini, depannya komunitas, kelompok masyarakat, dan pemerintah bisa melihat persoalan sampah ini secara lebih jeli.

“Perbanyaklah tempat sampah, perbanyak armada truk pengangkut sampah, dan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harus jelas,” tegasnya.

Langkah Kecil, Cerminan Mentalitas Besar

Dari sudut pandang pengelolaan lingkungan berkelanjutan, dua anggota Papua Tanpa Sampah (PTS) Nabire, Anny Butu dan Alfy, mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah ataupun minimnya partisipasi massa tidak boleh mematahkan semangat gerakan swadaya yang sudah berjalan.

Namun, perubahan perilaku masyarakat adalah harga mati. Anny Butu menekankan pentingnya memulai dari diri sendiri tanpa harus menunggu massa yang banyak:

“Untuk pemerintah semoga ada kesadaran yang lebih besar dalam menangani persoalan sampah. Kepada masyarakat, saya berharap sampah sekecil apa pun jangan dibuang sembarangan. Buanglah sampah pada tempatnya agar lingkungan tetap bersih,” ungkapnya.

Sementara itu, Alfy menambahkan bahwa aksi swadaya yang terus digulirkan komunitas-komunitas ini membuktikan bahwa kepedulian tidak diukur dari kuantitas jumlah orang, melainkan konsistensi aksi. Namun, fasilitas penunjang tetap mendesak.

Suasana aksi bersih-bersih yang dilaksanakan di Pasar Karang Nabire. (Foto: Ist)

“Kami melihat di pasar sebenarnya sudah ada bak sampah, tetapi kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Ke depan, pemerintah perlu lebih memfasilitasi pengelolaan sampah dan memperkuat pengawasan terhadap kebersihan lingkungan pasar,” ujarnya.

Alfy juga mengingatkan masyarakat yang sering kali bersikap reaktif hanya saat bencana melanda, padahal mengabaikan ajakan aksi kebersihan seperti ini.

“Ketika terjadi banjir, sering kali pemerintah yang disalahkan. Padahal, semuanya berawal dari kesadaran masing-masing. Jangan buang sampah sembarangan, biasakan membuang sampah pada tempatnya dan mulai memilah sampah plastik dengan sampah organik. Kita tidak bisa hanya berharap pada pemerintah jika kita sendiri tidak memulainya dari diri sendiri,” pungkas Alfy.

Aksi bersih-bersih di Pasar Karang hari itu mungkin telah usai, namun potret minimnya partisipasi di bawah 10 orang relawan menjadi tamparan keras bagi publik Nabire.

Pemuda yang terdiri dari empat komunitas dan ormas di Nabire berfoto bersama usai melakukan kegiatan bersih-bersih sampah di Pasar Karang. (Foto: Ist)

Melalui aksi kolaboratif ini, para peserta yang bertahan berharap ke depan akan ada gerakan masif yang melibatkan lebih banyak pihak.

“Mari kita jaga kebersihan di sekitar kita karena menjaga kebersihan bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama demi mewujudkan Nabire yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis: Kristin Rejang

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kritik di Hari Lingkungan Hidup: Pemuda Sorong Selatan Angkut Sampah Muara Kaibus ke Kantor Bupati

5 Juni 2026 - 23:11 WIT

Satu Suara dari Kampung Asbaken: Pemuda Adat Papua Gelar Aksi Iklim dan Desak Perlindungan Hak Ekologis

5 Juni 2026 - 21:19 WIT

Masyarakat Adat Nasfa di Sorong Selatan Gelar Aksi Iklim: “Hutan Ini Milik Adat, Bukan Negara”

5 Juni 2026 - 20:54 WIT

Catatan Hari Lingkungan Hidup dari Boven Digoel: Menanam Pohon, Menolak Korporasi

5 Juni 2026 - 16:10 WIT

WALHI Papua: Hari Lingkungan Hidup 2026 Jadi Refleksi Pahit, Masyarakat Adat Hanya Jadi Penonton

5 Juni 2026 - 15:00 WIT

Koalisi HAM Papua Buka Suara Soal Laporan Mama Yasinta Moiwend ke Polda Metro Jaya

3 Juni 2026 - 15:38 WIT

Trending di Hukum Kriminal