Oleh Jurnalis: Kristin Rejang
PAGI itu (Jumat, 2 Mei 2025) merupakan momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) aktivitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Timika, Papua Tengah tampak sibuk usai pelaksanaan upacara bendera yang pesertanya datang dengan berbagai kostum dari berbagai daerah.
Di sela-sela kegiatan, mata tertuju pada sebuah ruangan bertuliskan ruang tata boga. Disana terdapat oven roti industri yang ukurannya cukup besar, aneka pan kue, bahan-bahan kue, ada pula roti yang siap untuk dijual karena saat itu sedang ada bazar di SLB tersebut.

Para siswa ketika berada di ruang tata boga dan terlihat sedang membuat roti bersama chef dan guru. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Ditengah ruangan itu, terdapat meja segi empat berukuran besar. Tampak delapan anak laki-laki ada yang memakai celemek dan penutup kepala berdiri berkeliling meja tersebut sembari sibuk memipih adonan roti. Diantara mereka ada satu chef berpakaian putih tampak sedang memandu anak-anak tersebut dibantu seorang guru.
“Nama saya Bagus Satrio, saya kelas XI (2 SMALB),” begitu kata Bagus seorang siswa SLB yang menjelaskan kepada jurnalis sasagupapua dengan menggunakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Bagus Satrio tampak bahagia ketika ditanya apakah senang mengikuti pelajaran membuat aneka roti.
“Bahagia sekali, enak, lezat makan kue dan donat. Semua buat sama-sama,” katanya.
Ia jadi termotivasi untuk membuat usaha roti di rumah jika ia telah lulus sekolah. “Mau usaha roti di rumah, untuk cari uang,” ungkapnya.
Bazar Pertama
Merayakan Hardiknas, tak hanya sekedar upacara bendera lalu selesai, keluarga SLB melakukan berbagai kegiatan seperti pemberian penghargaan, lomba fashion show, hingga bazar karya kelas tataboga.
Kepala Sekolah SLB Negeri Timika, Papua Tengah, Sunardin mengatakan mereka melaksanakan pelatihan membuat aneka roti berlangsung sejak Senin 28 April hingga 3 Mei 2025.
Pelatihan tata boga tersebut memberikan satu keterampilan bagi peserta tunarungu Jenjang dari SMPLB dan SMALB.
Dari pelatihan singkat tersebut, hasilnya beraneka roti dipamerkan dalam momen Hardiknas yang langsung habis dibeli oleh para orang tua siswa di sekolah yang mendidik sebanyak 145 anak SD, SMP dan SMA Luar biasa itu.
Terlihat roti isi coklat, keju, roti sosis, donat aneka rasa, dan beberapa jenis roti lainnya dipamerkan dengan rasa yang tak kalah dengan merk-merk roti ternama yang ada di Timika.
“Kami mengadakan bazar untuk memberikan apresiasi kepada siswa dan guru, dari masyarakat sekitar juga orang tua bahwa kami mampu, kami bisa berkarya dan ini hasil yang kami lakukan selama pelatihan,” ungkapnya.
Bazar pertama tersebut memberikan semangat yang baru, pengetahuan, dan pemahaman yang baru serta kepercayaan diri bagi anak-anak luar biasa bahwa apa yang mereka buat dan kerjakan selama pelatihan bisa dipasarkan.
“Secara tidak langsung, jiwa wiraswasta akan muncul dan terbangun di peserta didik dan orientasi mereka kedepan,” ungkapnya.
Roti buatan tangan anak-anak SLB tersebut mendapatkan banyak perhatian ketika mereka menyebarkan flyer yang sebenarnya hanya untuk para orang tua siswa, namun respon masyarakat dan mitra SLB tertarik bahkan memesan hingga ratusan roti.
“Saya bilang tunggu hari ni akan ada promo dulu, kedepan akan produksi,” katanya.
Sunardin mengatakan ilmu yang telah diterapkan kepada para siswa tersebut akan sia-sia jika tidak berlanjut.
“Pasti mereka akan lupa caranya, bagaimana ana bahannya, sehingga mungkin kedepan kami akan pilih satu minggu atau sebulan sekali kami bawa karya siswa untuk dipamerkan di Pagar Kuning, kemudian kami juga rencana mau membuat workshop di depan sekolah jadi semacam kios kecil supaya orang tua bahwa ini karya para siswa,” ungkap Sunardin.
Datangkan Chef Dari Sulawesi Selatan dan Muncu
Dengan kekuatan seadanya, namun pihak sekolah terus berusaha untuk mengembangkan para siswanya, mereka memiliki ambisi mulia untuk para siswa terus berkembang.
Tak tanggung-tanggung, pihak sekolah mendatangkan chef dari Sulawesi Selatan tepatnya dari Pangkep.

Kepala Sekolah SLB Negeri Timika, Sunardin berfoto bersama Chef dan guru pendamping serta siswa SLB saat membuat roti. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Keputusan mendatangkan chef ini usai mereka mendapatkan penyediaan sarana prasarana tata boga yang dibangun oleh dinas pendidikan Provinsi Papua Tengah, kemudian mereka melakukan rehabilitasi ruangan tata boga sebab harus safety dan aman untuk siswa berkebutuhan khusus.
Setelah ruangan siap, mereka berpikir perlu melibatkan seorang chef untuk membantu para guru memberikan pelatihan kepada siswa.
“Sehingga kami datangkan seorang chef, dan memang dia juga memiliki toko roti dan kami menghubungi dan beliau bersedia berbagi ilmu,” jelasnya.
Awalnya ada rasa khawatir dari chef, sebab selama ini chef tersebut hanya mampu mengajar SMK, mengajar di perhotelan dan semua adalah orang dewasa. Ini menjadi pengalaman baru bagi chef dimana ia memiliki tantangan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
Namun pihak sekolah memberikan keyakinan kepada chef dan siap membantu.
“Dia (chef) berikan apresiasi sangat tinggi karena awalnya dia tidak percaya bahwa anak-anam tunarungu yang diajarkan, tapi buktinya mereka bisa, karena tunarungu hambatan bicara saja, tapi penglihatan kan berfungsi,” katanya.

Seorang guru SLB Negeri Timika saat menunjukan roti SIBI karya anak-anak tunarungu SLB saat momen bazar. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
Pelatihan singkat bagaikan sulap, hari pertama anak-anak hanya melihat cara pembuatan, hari berikutnya mulai diajarkan, hari ke tiga, empat mulai bisa diuji satu persatu mulai dari bahan, timbangan adonan, pembakaran hingga pengemasan semua berhasil dilahap oleh para siswa tunarungu tersebut.
“Sehingga kemasan kita berikan nama SIBI Bakery dimana SIBI itu diambil dari singkatan Sistim Isyarat Bahasa Indonesia, biasa itu bahasa isyarat anak tunarungu pakai,” jelasnya.
Harapan dari Chef
Chef yang didatangkan dari Sulawesi Selatan itu bernama Alan.
Ia bercerita memberikan pelatihan selama lima hari, menurutnya sangat luar biasa sebab ia tidak menduga anak-anak tunarungu lebih cepat menangkap ketika diajarkan cara membuat roti.
“Sangat luar biasa, kemarin saya cuman sempat ngajar 2 hari, saya lepas mereka yang buat sendiri dan ternyata mereka bisa,” kata Chef Alan.
Menurutnya ketika para siswa tersebut tamat sekolah, kemungkinan besar mereka bisa membuat usaha bisnis cake atau roti bahkan bisa bekerja di berbagai bran toko roti besar di Papua.
Ia mengakui awalnya merasa kebingungan metode mengajar seperti apa yang akan dia terapkan.
“Ternyata tidak ribet dan tidak susah, mereka malah cepat paham mereka tidak bisa mendengar, berbicara tapi pikiran mereka itu luas. Mereka malah lebih lincah dari orang normal dengan waktu yang singkat,” ungkapnya.
Chef Alan memiliki harapan besar untuk para siswa tersebut.
“Semoga mereka bisa menjadi anak-anak sukses seperti anak-anak reguler pada umumnya. Mereka bisa terus berkembang,” harapnya.
Guru Pendamping: Jangan Diskriminasi Mereka
Syaiful Ramadhan, seorang guru muda yang dipercayakan untuk menjadi guru pendamping selama proses pelatihan menjelaskan, sembilan siswa yang mengikuti pelatihan roti merupakan siswa berbakat yang pernah mengikuti perlombaan hingga tingkat nasional.
Ada siswa yang mengikuti perlombaan triple cake berbahan dasar sagu hingga ke Jakarta, mengikuti perlombaan wedding cake hingga tingkat provinsi.
“Mereka semua berprestasi, ada yang juara membatik tingkat provinsi dan nasional, membuat hantaran tingkat provinsi, juara merangkai buah, hingga olahraga,” terangnya.
Untuk roti produksi, mereka baru pertama kali diajarkan, namun untuk membuat kue skala rumahan pihak SLB sudah selalu mengajarkan anak-anak tersebut meskipun dengan peralatan seadanya.
Ketika pelatihan membuat roti, Syaiful mengakui memiliki tantangan yakni komunikasi. “Jadi kadang kita bermaksud lain, dia pahamnya beda, tapi setelah mereka paham berarti kita mundur saja itu, mereka sudah mainkan sendiri sampai selesai,” terangnya.
Ia bercerita, hari pertama para siswa hanya diberikan contoh namun hari ketiga pelatihan mereka sudah bisa melakukan sendiri.
“Kita cuman pantau-pantau saja jangan sampai salah takar tapi syukur disikat semua, mulai dari donat sampai roti kalau donat dengan toping juga mereka sudah jago,” katanya.
Syaiful merasa bangga sebab ia juga tak menyangka sebab awalnya mereka hanya mengandalkan satu siswa yang memang kelihatan sekali berminat di bidang aneka kue.
“Ketika masuk beberapa, ternyata semua memang mereka bisa dan mereka memang bidangnya disini. Saya pernah satu kali mengajar wedding cake sampai nangis, karena mereka sebenarnya bisa bahkan merangkai bunga dengan berbagai bentuk juga mereka bisa,” ujarnya.
Ia berharap dengan karya roti para siswa ini bisa lebih menggaungkan bahwa mereka yang berkebutuhan khusus juga mampu berkarya dan menghasilkan.
“Harapan saya juga pemerintah bisa sediakan seperti cafe yang mereka kelola mulai dari kopi, pastry seperti ini, dan disini kami juga melatih mereka untuk masak,” kata Alan.
Ia juga berpesan agar anak-anak berkebutuhan khusus perlu dirangkul dan tentunya setara dengan anak-anak normal lainnya.

Seorang siswa SLB saat mengikuti lomba Fashion show dalam momen Hardiknas. (Foto: Kristin Rejang/Sasagupapua.com)
“Jangan diskriminasi mereka, jadi dirangkul diluar, itu yang selalu saya gaungkan, mereka ini beda dari yang lain, hanya saja komunikasinya yang berbeda , tapi secara skill mereka bahkan lebih dari orang lain di luar,” pungkasnya.