SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Yulian Magai, memberikan apresiasi tinggi kepada Kapolres Mimika atas respons cepat dalam menangani kasus penganiayaan yang menimpa seorang pria di Jalan Cenderawasih, tepatnya di depan Hotel Cenderawasih 66, pada Minggu (19/7/2026) malam.
Aksi kekerasan tersebut sebelumnya sempat memicu ketegangan yang menyebabkan pihak keluarga melakukan blokade di ruas jalan utama.
Yulian menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja Kapolres Mimika yang dinilai sangat sigap, di mana dalam hitungan jam setelah kejadian, para pelaku berhasil diamankan. Menurutnya, langkah tegas ini sangat penting untuk memberikan rasa keadilan bagi korban yang diketahui berinisial DK serta menjaga keamanan di wilayah Timika.
“Saya sangat mengapresiasi Kapolres Mimika yang baru saja dilantik. Beliau luar biasa, dalam waktu beberapa jam saja para pelaku sudah berhasil ditangkap. Ini membuktikan bahwa hukum tetap tegak di negara ini,” ujar Yulian, Senin (20/7/2026).
Terkait identitas pelaku, Yulian menyoroti bahwa para pelaku bukanlah penduduk asli atau warga lokal Timika. Ia menegaskan bahwa masyarakat Papua, khususnya di Timika, sangat terbuka bagi siapa saja yang datang untuk mencari penghidupan dengan cara yang baik. Namun, ia menyayangkan tindakan kriminalitas dilakukan oleh oknum yang datang dan merusak kedamaian daerah.
“Masyarakat Papua adalah orang-orang yang baik dan terbuka. Kami memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mencari nafkah di tanah ini, bahkan kami tidak melarang mereka bekerja di sektor pendulangan emas di Kali Kabur. Namun, jika mereka datang justru untuk melakukan tindak pidana, termasuk penganiayaan, tentu ini tidak dapat ditoleransi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yulian menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas bagi para pelaku kejahatan agar mereka jera dan menyadari konsekuensi atas perbuatan mereka. Ia berharap pihak kepolisian dan pemerintah dapat membersihkan Timika dari oknum-oknum yang kerap menjadi pengacau keamanan.
Ia juga menyoroti fenomena degradasi moral yang terjadi di tengah masyarakat, di mana pengaruh buruk dari luar sering kali memicu perilaku negatif seperti mabuk-mabukan atau tindakan kriminal lainnya di kalangan generasi muda Papua. Menurutnya, hal tersebut bukanlah cerminan dari budaya asli Papua.
“Kami ingin Timika kembali menjadi daerah yang damai dan sejahtera seperti era 90-an. Kita ingin hidup aman berdampingan tanpa ancaman dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kami meminta pihak berwenang untuk terus menindak tegas siapa pun yang mengganggu ketertiban umum agar rasa aman bagi seluruh warga dapat terus terjaga,” tutup Yulian.






