Menu ✖

Mode Gelap

Hiburan · 19 Okt 2026 12:49 WIT

Theibers Band dari Lanny Jaya Bawa Lagu di PRF: Kenang Peristiwa Genosida 1977 di Papua


Theibers Band dari Lanny Jaya saat tampil di PRF XI. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF) Perbesar

Theibers Band dari Lanny Jaya saat tampil di PRF XI. (Foto: Decky Mote/Panitia PRF)

SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Grup musik asal Lanny Jaya, Kabupaten Papua Pegunungan, Theibers Band, sukses mencuri perhatian penonton saat tampil di panggung Papua Reggae Festival (PRF) ke-XI yang digelar di Nabire, Papua Tengah pada 16-17 Oktober 2026.

Dalam debut pertamanya di festival musik reggae bergengsi tersebut, grup band ini membawakan tiga buah lagu bernuansa bahasa daerah yang sarat akan pesan sejarah, dinamika kehidupan, dan percintaan.

Perwakilan Theibers Band, Maleo Teris Kogoya, mengungkapkan rasa bangganya bisa berpartisipasi dalam PRF XI. Ia menjelaskan bahwa lagu pertama yang dibawakan mengangkat isu sejarah, yakni mengenai peristiwa genosida yang terjadi di Pegunungan Tengah Papua pada tahun 1977.

“Yang pertama tentang Genosida yang terjadi di Meepago ,tapi bukan hanya disini saja, namun kami bercerita tentang situasi sekarang di wilayah pegunungan lainnya juga,” kata Maleo Teris Kogoya.

- Advertising -
- Advertising -

Ia menambahkan, pesan kemanusiaan ini tidak hanya relevan bagi wilayah Pegunungan, melainkan menjadi refleksi yang mewakili seluruh masyarakat di Tanah Papua hingga saat ini.

Untuk diketahui, peristiwa tersebut juga sempat dicatat dalam laporan tematis Asian Human Rights Commission (AHRC) dan International Coalition for Papua (ICP) bertajuk “The Neglected Genocide” (Genosida yang Diabaikan), rangkaian peristiwa kekerasan dan operasi militer di Pegunungan Tengah Papua pada rentang tahun 1977–1978 yang memakan ribuan korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Dikutip juga dari BBC salah satu wilayah terdampak yakni wilayah Agimuga, Kabupaten Mimika. BBC melaporkan ada trauma tenang peristiwa 1977.

Sementara untuk karya berikutnya, Maleo menceritakan kisah di balik lagu kedua dan ketiga yang lebih merefleksikan dinamika kehidupan sosial dan asmara.

“Lagu yang kedua tentang perjalanan salah satu senior kami. Beliau pergi melamar seorang perempuan di rumah orang tuanya, tetapi orang tuanya menolak, makanya beliau mempersembahkan lagu itu. Terus lagu yang ketiga hampir mirip, tentang percintaan juga dari Paniai mengejar sampai ke Teluk Kaimana,” jelasnya.

Menanggapi perjalanan mereka menuju panggung PRF XI, Maleo membeberkan bahwa ini merupakan pengalaman perdana bagi Theibers Band. Mereka bahkan rela mengusahakan dana dan tiket pesawat secara mandiri dari Wamena menuju Jayapura demi bisa menyuarakan karya musik mereka.

“Kami sangat bangga sekali bisa masuk dalam PRF yang pertama kali ini. Kami usahakan bagaimanapun caranya supaya bisa datang. Tiket dari Wamena ke Jayapura kami usaha sendiri lewat pencarian dana. Dari Jayapura ke sini baru kami naik kapal yang disediakan pemerintah,” ungkapnya.

Atas kesempatan tersebut, Theibers Band menyampaikan apresiasi mendalam kepada panitia pelaksana serta Komunitas Reggae Papua (KORK).

“Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada KORK, Kakak Ketua Teddy Pekei dan Ibu Ketua Ema Dogomo, karena telah menerima kami di PRF ke-11 ini. Terima kasih kepada panitia yang sudah menyelenggarakan acara ini,” tuturnya.

Ia juga memberikan nilai plus terhadap konsep kebudayaan yang diusung panitia tahun ini, di mana seluruh grup band diwajibkan menyanyikan lagu dalam bahasa daerah masing-masing. Konsep ini sekaligus berhasil mengantarkan pagelaran PRF XI mencatatkan sejarah baru dalam rekor MURI.

“Panitia punya usaha itu sangat luar biasa. Belum pernah ada PRF sebelumnya yang mewajibkan bahasa daerah seperti ini, tapi panitia bisa mengusahakan sampai semua grup band bawakan lagu daerah masing-masing dan masuk dalam rekor MURI,” puji Maleo.

Maleo berharap musik reggae di Tanah Papua dapat terus dikawinkan secara harmonis dengan instrumen dan bahasa daerah sebagai bentuk pelestarian kebudayaan lokal di tengah arus modernisasi.

“Harapan saya ke depan kita bisa lebih mengembangkan musik reggae yang dipadukan dengan musik tradisional dan bahasa daerah kita, sehingga bisa terus disatukan dan dikembangkan bersama,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Papua Reggae Festival XI Nabire Berjalan Sukses, di Mana PRF Selanjutnya?

18 Oktober 2026 - 10:44 WIT

UMKM OAP Kantongi Omset Tembus 131 Juta,Teddy Pekei: Terbesar Sepanjang Sejarah PRF

18 Oktober 2026 - 03:55 WIT

Dalton Maisini Drummer yang Masih SD Tampil Memukau Iringi Intan Sunrise di PRF XI: Bermula Dari Pelayanan di Gereja

17 Oktober 2026 - 21:16 WIT

Air Mata Nurhana Yarinap di PRF: Saat Musik Menjadi Suara Hati dan Identitas Orang Papua

17 Oktober 2026 - 17:01 WIT

Bertho Gobai: LMB Band Bawa Pesan Filosofi Suku Mee ‘Hidup Dari Sumur Sendiri’ di Panggung PRF XI

17 Oktober 2026 - 12:33 WIT

Ketua KORK: Meki Nawipa Gubernur Kedua yang Beri Ruang Seniman Reggae Papua

17 Oktober 2026 - 02:02 WIT

Trending di Hiburan