SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah — Ketua Pokja Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Yulius Wandagau, mengecam keras insiden ledakan yang diduga berasal dari granat atau sejenis bom udara di halaman Gereja Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Paroki Bilogai, Kabupaten Intan Jaya.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026, sekitar pukul 12.15 WIT. Ledakan mengakibatkan empat orang warga sipil terluka tepat saat umat baru saja selesai melaksanakan misa.
Berdasarkan laporan kejadian, keempat korban teridentifikasi atas nama Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. Dua korban merupakan aparat kampung, sedangkan dua lainnya adalah warga masyarakat.
Seluruh korban langsung dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka akibat serpihan ledakan. Satu orang dilaporkan mengalami luka berat, sementara tiga lainnya luka ringan.
Proses evakuasi dibantu langsung oleh Pastor Dekan Moni Puncak bersama tim pastoral setempat untuk membawa korban ke ibu kota kabupaten demi mendapatkan perawatan medis yang memadai.
Kronologi Kejadian di Area Sakral
Menanggapi insiden berdarah di area suci tersebut, Yulius Wandagau menyampaikan rasa penyesalan mendalam dan memberikan pernyataan tegas terkait situasi yang terus berulang di wilayah Papua Tengah.
“Pihak keamanan diduga melepaskan granat atau sejenis bom di Gereja Katolik Mbamogo. Menurut informasi, setelah misa selesai, umat sedang duduk-duduk di halaman gereja sambil bercerita. Pada saat itulah, ada serangan udara menggunakan drone dan menjatuhkan bom dari udara dan meledak lalu mengenai empat orang laki-laki hingga terluka. Kejadiannya berlangsung hari Minggu jam 12.15 WIT,” ujar Yulius Wandagau saat memberikan keterangan, Senin (18/5/2026).
Yulius menjelaskan kondisi terkini para korban serta proses evakuasi yang dilakukan oleh pihak gereja pascaledakan.
“Informasi yang kami peroleh, dari empat korban luka ini, dua orang diantaranya di antaranya aparat kampung dan dua lainnya masyarakat. Tim pastoral bersama Pastor Dekan Moni Puncak langsung menangani evakuasi. Dua korban dievakuasi ke rumah sakit pada sore hari setelah kejadian. Kemudian, dua korban lainnya dievakuasi ke ibu kota kabupaten pagi harinya, hari Senin. Jadi, dari empat orang yang terluka, satu orang mengalami luka berat,” ungkapnya.
Desak Aparat Keamanan Bertindak Profesional
Lebih lanjut, Yulius meminta dengan tegas kepada aparat TNI dan seluruh kesatuan pengamanan yang bertugas di Intan Jaya agar bertindak lebih profesional serta tidak melakukan serangan secara membabi buta tanpa memastikan target operasi.
“Kami harapkan TNI maupun kesatuan yang bertugas di Intan Jaya tidak bertindak menggunakan bom atau melakukan penembakan membabi buta. Mereka harus memastikan target dengan baik. Bedakan mana TPN-OPM dan mana masyarakat sipil. Apalagi ini kejadiannya di halaman gereja dan pada hari Minggu. Kejadian serupa di beberapa kabupaten seperti di Distrik Kembru (Kabupaten Puncak), Timika, dan Ilaga tidak boleh terulang lagi,” tegas Yulius.
Ia mengingatkan bahwa ada prosedur operasi standar (SOP) yang wajib dijalankan oleh aparat keamanan guna meminimalisir jatuhnya korban di kalangan warga, terutama jika terdapat potensi pertempuran di area pemukiman atau tempat ibadah.
“Apabila TPN-OPM berbaur dengan masyarakat sipil, ada prosedurnya untuk menghindari jatuhnya korban sipil. Aparat harus mengecek kondisi masyarakat terlebih dahulu, atau memberikan informasi awal bahwa akan ada serangan atau penyisiran. Hal-hal ini kan bisa disampaikan melalui pihak gereja, kepala suku, gembala, pendeta, klasis, atau pastor. Jika tidak ada komunikasi, yang terjadi akhirnya membabi buta. TPN OPM-nya selamat, yang menjadi korban justru masyarakat sipil,” jelasnya.
Mata Rantai Konflik yang Merusak Kehidupan Masyarakat
Yulius sangat menyayangkan ketiadaan informasi awal serta pengabaian kesucian hari ibadah yang berujung pada jatuhnya korban luka.
“Situasi sekarang ini bukannya berhenti, tetapi berjalan terus. Ini adalah rentetan konflik. Masalah di Ilaga berdarah, Distrik Kembru berdarah, Dogiyai Berdarah, Mimika, itu belum selesai, kemudian di Timika, seorang pelajar yang sudah selesai SMA sedang mencari uang di tempat pendulangan untuk melanjutkan kuliah juga ikut jadi korban. Sekarang, kejadian lagi di Intan Jaya. Kami berharap pemerintah pusat dan daerah bersama Panglima TNI, Kapolri, Kapolda, dan Pangdam bisa duduk bersama untuk mencari solusi total,” pintanya.
Menurutnya, dampak dari rentetan konflik bersenjata ini telah merusak berbagai sendi kehidupan masyarakat di pedalaman Papua Tengah, mulai dari pelanggaran HAM, gelombang pengungsian, hingga lumpuhnya sektor pendidikan dan kesehatan.
“Jika dibiarkan, pelanggaran HAM akan meluas. Dalam satu tahun ini saja, sudah puluhan hingga ratusan orang meninggal dunia maupun luka-luka. Akibatnya, masyarakat mengungsi, meninggalkan gereja serta harta benda mereka untuk hidup luntang-lantung di kota. Anak-anak putus sekolah, masalah gizi memburuk, dan layanan kesehatan tidak jalan. Kondisi ini merata di daerah pedalaman mulai dari Intan Jaya, tiga kabupaten di atas, Timika, Nabire, hingga ke area pulau-pulau,” tutur Yulius.
Desakan untuk Duduk Bersama
Untuk mengakhiri krisis kemanusiaan ini, Pokja Adat MRP mendesak seluruh pemangku kebijakan termasuk pemerintah daerah dan pusat serta jajaran pimpinan TNI-Polri untuk segera menggelar pertemuan terpadu.
“Pemerintah punya tanggung jawab. Kita harus duduk bersama Gubernur, Wakil Gubernur, DPR, MRP, dan Kapolda untuk bicara masalah keamanan. Bagaimana kita menciptakan suasana yang aman bagi masyarakat dan bagaimana agar para pengungsi bisa kembali ke kampung halaman mereka. Kita harus mencari solusi bersama karena konflik ini terus berjalan di Papua Tengah,” lanjutnya.
Yulius menegaskan kembali bahwa pihaknya mengutuk keras insiden di Kampung Mbamogo dan terus memantau pergerakan warga sipil yang saat ini ketakutan dan melarikan diri ke hutan.
“Kami sangat menyesalkan tindakan yang diambil oleh pihak keamanan di Kampung Mbamogo. Banyak masyarakat ketakutan dan mengungsi. Kami juga mendapat informasi bahwa tim pastoral bersama Pastor Dekan Moni Puncak saat ini sedang mendata dan mengumpulkan warga yang sempat lari menyelamatkan diri ke dalam hutan,” tambahnya.
Yulius memastikan berdasarkan data mutakhir dari tim pastoral, sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban jiwa yang meninggal dunia.
“Sementara ini belum ada informasi korban meninggal dunia. Hanya empat orang tersebut yang mengalami luka-luka akibat serpihan granat. Satu di antaranya luka berat, dan tiga lainnya luka ringan,” pungkas Yulius Wandagau.





