SASAGUPAPUA.COM, Papua Tengah – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPPA dan KB) Provinsi Papua Tengah menggelar kegiatan strategis bertajuk “Pengembangan Strategi Operasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Sesuai dengan Kearifan Lokal”.
Kegiatan yang berlangsung di Nabire pada Kamis, 30 April 2026 ini menghadirkan perwakilan dari delapan kabupaten se-Provinsi Papua Tengah sebagai upaya memperkuat kualitas manusia dari tingkat keluarga.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, menjelaskan kesehatan reproduksi adalah kunci utama dalam membangun masa depan provinsi baru ini.
Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi akan berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat Papua Tengah dalam jangka panjang.
“Hari ini kita sosialisasi tentang kesehatan reproduksi. Ini memang sangat penting untuk semua sektor, apalagi bagi peserta aktif yang diundang. Kita percaya bahwa mereka juga harus mengetahui bagaimana menata harapan masa depan melalui penguatan sumber daya manusia. Orientasi kita adalah bagaimana provinsi baru di Papua Tengah ini mewujudkan kualitas SDM di masa mendatang. Jadi untuk lima tahun ke depan, kita harapkan ada hal-hal yang berdampak bagi kualitas hidup masyarakat,” ujar Sarles Brabar.
Sarles juga mengapresiasi gerak cepat pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah. Ia mengatakan pembangunan non-fisik berupa penguatan kapasitas manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.
“Ada yang mengerjakan fisik, tetapi kita yang mengerjakan non-fisik yang hari ini dilakukan Dinas PPPA dan KB. Ini kebijakan yang perlu kita apresiasi karena gubernur baru kita semangat kerjanya luar biasa, yang penting kita kuatkan dari bawah. Kita harus bijak dan bersama-sama menopang janji-janji gubernur dan wakil gubernur lima tahun ke depan yang diimplementasikan melalui program di dinas masing-masing. Kami dari BKKBN yang berkantor pusat di Jayapura akan terus membimbing dan berkolaborasi karena dinas di sini sifatnya otonom,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sarles meluruskan pemahaman keliru mengenai program Keluarga Berencana (KB) di Papua. Ia menjelaskan KB bukan tentang melarang orang memiliki banyak anak, melainkan tentang perencanaan yang matang.
“Pelayanan Keluarga Berencana itu pelayanan sosial yang dipahami dulu lalu diikuti. Jangan sampai mereka memahami bahwa KB itu membatasi orang tidak boleh punya anak banyak. Padahal itu program untuk menjamin istri atau keluarga dalam mengatur, merencanakan, dan membimbing keluarganya menjadi keluarga yang sehat berkualitas. Kita tidak kerja sendiri, kita harus padu dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait agar benar-benar berdampak,” ungkap Sarles.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas PPPA dan KB Provinsi Papua Tengah, Agustinus Bagau, mengatakan dukungan dari pimpinan daerah menjadi energi utama dalam menjalankan program yang menyentuh persoalan mendasar di masyarakat ini.
“Masalah keluarga di Papua Tengah ini masalah yang sangat mendasar. Luar biasa Bapak Gubernur dengan Wakil Gubernur sangat prihatin dan memberikan perhatian besar terhadap program, lebih khusus kepada ibu-ibu. Dengan dukungan tersebut, kita bisa lakukan kegiatan prioritas ini. Kami ingin menjadi OPD penyampai pesan agar masyarakat mengalami perubahan perilaku dan lebih fokus mengurus keluarga,” jelas Agustinus Bagau.
Agustinus juga menyoroti pentingnya keterlibatan kaum laki-laki atau para ayah dalam pengasuhan anak melalui program-program spesifik yang sedang digalakkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
“Terkait reproduksi, kita mengangkat metode yang bisa diterima sesuai kearifan lokal. Kita jelaskan bahwa ini untuk mengatur jarak agar anak yang dilahirkan benar-benar diurus. Ada program seperti GENTING dan GATIE yang fokus pada maksimalnya peran keluarga. Artinya, mengurus anak tidak hanya dibebankan kepada ibu, tapi bapak juga harus mengambil bagian. Harapannya, peserta dari delapan kabupaten ini menjadi penyampai pesan di layanan masyarakat bahwa kesehatan reproduksi bagi ibu produktif itu sangat penting,” pungkas Agustinus.






