SASAGUPAPUA.COM, JAYAPURA – Masalah penumpukan sampah di Kota Jayapura kian hari kian mengkhawatirkan. Koordinator Umum Volunteer Greenpeace Indonesia base Jayapura, Yustina Butu, mengungkapkan pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan aktivitas ekonomi, serta meningkatnya pola konsumsi masyarakat menjadi pendorong utama melonjaknya volume sampah dari waktu ke waktu.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya pengelolaan yang baik kata dia ancaman serius seperti pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, rusaknya estetika kota, hingga bencana banjir akibat tersumbatnya saluran drainase sudah berada di depan mata.
Menurut data yang dihimpun dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Jayapura, produksi sampah di ibu kota Provinsi Papua ini telah menembus angka sekitar 240 ton per hari.
Dikatakan, angka tersebut bahkan bisa melonjak tajam hingga mencapai 300 ton per hari ketika memasuki hari-hari besar keagamaan.
Ironisnya kata Yustina, lonjakan drastis ini belum mampu diimbangi secara maksimal oleh kapasitas pengangkutan sampah yang ada untuk menjangkau seluruh wilayah kota.
“Perilaku masyarakat memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap meningkatnya volume sampah di Kota Jayapura,” ujar Yustina Butu saat memaparkan hasil kajian timnya yang diterima media ini.
Dirinya juga menambahkan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan, rendahnya kesadaran lingkungan, kebiasaan mencampur sampah, tingginya penggunaan plastik sekali pakai, serta minimnya partisipasi dalam pengelolaan sampah menjadi rantai masalah yang harus segera diputus.
Yustina menjelaskan, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih kerap membuang sampah di pinggir jalan, selokan, sungai, hingga kawasan pesisir yang akhirnya memperburuk kualitas lingkungan.
Tidak hanya itu, kata dia pola konsumsi masyarakat perkotaan yang gemar menggunakan kantong plastik, botol minuman, dan kemasan makanan sekali pakai karena alasan praktis, turut memperparah keadaan lantaran jenis limbah ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.
Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Eksternal, Melkyoris Sirmi. Ia menyoroti bagaimana sebagian besar warga masih mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu wadah, yang pada akhirnya menyulitkan proses daur ulang dan membuat seluruh sampah langsung menumpuk begitu saja di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Dijelaskan, merujuk pada penelitian terdahulu di Kecamatan Abepura, perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah memang masih berada pada kategori sedang dan menunjukkan gejala apatis terhadap lingkungan, yang dipicu oleh kurangnya sosialisasi dari pemerintah serta rendahnya kepedulian warga.
“Masyarakat kota cenderung tidak merasa bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan sendiri, sehingga program kebersihan dari pemerintah pun sulit berjalan efektif,” kata Melkyoris Sirmi.
Melkyoris juga menjelaskan bahwa selain faktor perilaku dan pertumbuhan penduduk, keterbatasan fasilitas persampahan serta jauhnya lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS), terutama di kawasan pesisir Jayapura Utara, membuat masyarakat kurang optimal dalam membuang sampah pada tempatnya.
Sebagai langkah solutif, tim Volunteer Greenpeace Indonesia base Jayapura menegaskan keberhasilan penanganan sampah ini tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah daerah semata, melainkan sangat membutuhkan dukungan dan kesadaran masyarakat sebagai penghasil sampah utama.
Dimana Hubungan antara perilaku manusia dan volume sampah ini sangat linier, di mana semakin rendah kesadaran warga untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah, maka akan semakin terbebani pula kapasitas lingkungan kota ini.
“Peningkatan volume sampah di Kota Jayapura tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, tetapi juga oleh perilaku masyarakat yang masih kurang peduli terhadap pengelolaan sampah,” tuturnya.
Mereka berharap pemerintah dan seluruh elemen warga dapat mempererat kerja sama untuk melakukan perubahan perilaku melalui edukasi lingkungan yang masif, gencar melakukan sosialisasi, meningkatkan sarana pengelolaan, serta mulai menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) secara nyata sejak dari lingkungan rumah tangga.





